BIASA, LUAR BIASA DAN MAHA KUASA

 

Aku mendengar untuk menyampaikan

Aku melihat untuk lebih dekat

 

Begitu berbeda, antara impian dan bayangan

Impian selalu berada didepan

Membawa kemana kita akan berada, membawa kemana kita untuk menjadi siapa

Tak perlu memberikan pendidikan tinggi kepada impian

Dia tahu, dia harus selalu didepan

Karena itu takdirnya, menjadi imam

Berbeda jauh dengan bayangan.

 

Sudah waktunya berdiri

Mengisi hati

Penuh luka dan duka itu pasti

Yang terpenting, Berani

Berkompetisi mendapat rahmat yang tersembunyi

Untuk hari yang telah akan kita ketahui

Merayakan mimpi

 

Jarak memberikan arti rindu

Waktu tak kenal menunggu, dia harus bergegas mengejar harapan

Remember why you started, and also did

 

Oleh karenanya ku pinta ke Maha Pemberi dari para peminta

Ku rasa hangatnya mengalir

Datang tuntun asa

Dengan kehendaknya pada Qur’an Ali Imran

Dia tegaskan Dia Maha Berkehendak tanpa batas

Seperti takdir Jin yang dulunya disurga, kini di neraka

Yang penting lurus vertikal hanya kepada-Nya

Surat Seratus dua belas ayat ke dua

 

Memperembutkan rahmat yang tersembunyi

Kebaikan kehidupan

Mulai kepastian takdir hingga menyuruh merubah takdir

Tentunya, itu membutuhkan syarat

Ibarat membeli tidak tangan kosong

Apakah kau pun setuju ?

 

Sebentar, ini soal hal yang biasa

Perkawinan

Ini tidaklah hal yang luar biasa, manisku

Predikat yang dilakukan oleh milyaran orang

Hal yang luar biasa ialah cara mengisi kehidupannya dengan subjeknya

Sudah saatnya aku membincangkan ini, kasihku

Ibadah yang menurutku wajib

Aku teringat, dahulu aku tersimpuh sujud senada dengan doa Ibrahim

Kala hati mulai tersentuh

Aku teringat, dalam gapai aku mampu mengisi secara kuantitas

Tapi aku ingin makna dan nilai

Hingga sujudku bersuara untuk “membeli” pilihan dengan syarat yang tak biasa

 

Berjalannya waktu, aku kembali diuji

Soal diri, mimpi, aku, engkau dan mereka

Harus aku akui aku bersyukur, bukan bangga, tapi beruntung

Bagaimana tidak, seluruhnya insan-insan itu mewakili sebagaimana yang aku minta

 

Hingga aku teringat kembali

Aku harus “membeli” dengan harga yang pantas untuk itu

Surat kedua ayat seratus delapan puluh enam – Surat ketujuh ayat seratus delapan puluh

Begitu erat, begitu lekat, perasaanku pada-Nya, pada mu dan pada mereka

Tak mampu daya aku hentikan, manjaku

Tak mampu daya aku tepiskan, sayangku

Begitu menggelora, untuk ukuran manusia

Sepekan sudah aku berupaya keras

Begitu menyesakkan malam yang sudah penuh sesak oleh letih

Mecoba relakan apa yang telah dan yang hendak terjadi

Karena aku sudah berniat “membeli”

Apapun sepenuh hati, Illahi lebih Tinggi

 

Ada yang mencoba mengingatkan masa indah

Ada yang mencoba menawarkan melihat kembali

Ada yang mencoba tinggal dijalani

Ada yang mencoba untuk berganti posisi

Dan dirimu mencoba mengajakku untuk berserah diri

 

Hati kala itu tidak pada tempatnya, wanitaku

Tapi gundah, diri ini tak rela untuk terus begitu dan begini

Karena ini memang soal perasaan manusia, dan keterbatasannya, dewi malamku

Kau pun pasti setuju untuk menolak menyakiti hati seorang manusia

Saat ini atau suatu saat nanti

Demi Tuhan Langit dan Bumi

Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar akan terjadi

Ku larut pada keteduhan seorang hamba

Surat ketiga puluh ayat enam puluh – Surat dua puluh delapan ayat tiga belas

Semata-mata demi nikmat syukur surat pertama dan surat lima puluh lima

Ingin ku bahagiakan dirimu seperti janjiku pada ibuku

Ada yang harus kau tahu, wanitaku, betapa aku berhasrat untuk itu

Sangat

 

Kini, fase kau dan aku sedang tegak berdiri

Saling memandang terkadang kita peduli

Meresapi dekapan kita yang mesra, yang dekat, yang lekat

Kita saling mendengar denyut jantung ribuan rasa

Kita tak pernah tahu, tapi kita mencari tahu

Sudah tiba waktunya, manisku

Tiba untuk menyegerakan, bergegas tapi bukan tergesa-gesa

Tuhan kita merestui itu

 

Demi Tuhan Penguasa Alam Semesta

Temani aku dalam satu garis lurus vertikal di lima waktu yang mulia

Demi Tuhan Penguasa hari Pembalasan

Panjatlah “Baik dan segerakan yang itu adalah hak kita untuk dunia akherat”

Demi Tuhan Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan

Mintalah “Jauhkan yang itu adalah buruk untuk dunia akherat kita”

Demi Tuhan Yang Meninggikan Langit dan Meletakkan Neraca

Mohonlah kebaikkan rahmat dan kemuliaan dunia akherat yang kekal tanpa batas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s