IMUNITAS

Jangan jadikan rutinitas ketika langit menurutmu kelabu.
Jangan jadikan antusias ketika matahari bersinar dikala siang.
Jangan jadikan keras saat kehidupan mulai dapat diraih.

Resapan dari milikmu nyatanya akan tetap milikku juga.
Aku tau, kau pun lebih tau mengenai malam.
Disana ada keyakinan ada pagi.
Waktu dimana kita mencuri kesempatan memadu padankan keserasian yang hilang.
Tempat dimana kita mendapat alasan untuk nyaman. Baik saling bersuara atau mengirimkan mimpi. Kita tau itu dengan baik.
Dimana kita melihat bulan yang terpasung langit kelam. Tapi tidak dengan kita bukan ? Karena mimpi itu tetap tergantung.

Selalu ada asa dipucuk resonansi doa. Burung hantu bersuara seperti ditikam daun cemara. Seperti kita yang saling terdiam tapi mengaturkan salam.

Hingga sampai sejuknya bulir embun menetes kau bahkan aku terkadang terlelap terlebih dahulu. Ada yang terjaga salah satu diantaranya. Tidak dalam waktu yang sama. Kita tidak persoalkan itu. Tapi soal terjebak persepsi. Bertukar posisi ditengah jalan buntu.

Kelihaian cahaya lentera tua telah menjadikan dimensi yang diperhitungkan. Platform. Antara fakta dan ego.

Cahayanya jadikan kita tidak berpendar anggun. Terhimpit sudah pada hitungan waktu yang mundur. Bukankah aku pernah nyatakan jangan mundurkan sejengkal langkahmu ? Kau berdalih, kapan kau nyatakan itu ? Tidak ingatkah kau saat dayaku menahan pendaran bintang yang hampir suram ? Yang pernah kita hitung bersama dalam waktu yang maju ?

Kau berteriak semakin kencang seolah ingin aku terlepas dan kau yang menang dalam benar. Aku menahan. Aku tertahan. Lelah letih nyatanya perlahan terkuras.

Kunci kehidupan bukan mainan bukan. Ini bukan dosa apalagi sampah. Kau berdalih sesal ini antara Lentera Tua dan Kutukannya. Parah.

Aku kembali menghitung lembaran kertas yang tersisa. Pijakan tawa semangat yang tak pernah padam. Aku bergegas namun kau diam.

Mungkin kau butuh waktu yang lebih. Mungkin kau butuh dorongan bertindak benar. Mungkin kau butuh memori mengingat hal yang baik. Kau malah mengenalkan aku dengan ilmu bumi saat aku sudah siap tak ragu tapi kau lupa ini bukan soal ilmu bumi. Ini ilmu hidup.

Bumi akan tiada tapi hidup  memberi keberagaman dunia. Berakhirlah diawal. Berawalah diakhir.

Kali ini aku titipkan salam terhangat yang tidak pernah ada sebelumnya. Biarkan aku berjalan kedepan. Ijinkan aku mencari kerelaan. Aku ingin melihat Tuhan. Aku turuti dimana ada harapan bagi bayangan. Tunjukkan dan katakan bila ada jalan. Dari jauh aku akan berkirim salam kembali padamu setelah aku berbincang pada Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Tuhanku merestui itu. Lalu hendak apa yang akan kau katakan ? Lidahpun kembali kelu. Memilih satu jawaban :  penyesalan atau keraguan.

Jangan patenkan itu sebagai Imunitas ketika cahayaku sudah berada diseberang. Ketika memang sudah tidak ada jalan atau pilihan, temui aku kembali di langit tinggi. Aku menanti. Persis disamping A’rasy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s