Bicara

Denyut itu tanda. Ada kematian dibalik kehidupan. Ada keyakinan diatas keraguan. Ada kelebihan menutupi kekurangan. Ada tujuan diakhir perjalanan.
Bicara itu pemahaman. Pemahaman untuk mengerti yg tidak dimengerti. Pemahaman untuk berbagi meyakini. Pemahaman untuk meletakkan (sementara) beban yg ada. Pemahaman untuk tahu. Pemahaman tidak kaku.
Ketika denyut itu berhenti dan dipaksa berhenti. Ingatlah tidak ada ‘bicara’ didalamnya. Bicara yg indah manakala manusia dengan manusia dalam makna yang sama. Saling mengenal dan mengerti. Bicara yang santun manakala manusia dengan manusia mengutarakan bebannya. Bicara yang anggun manakala tidak bicara penyesalan. Bicara yang elok manakala bicara meraih kesempatan dan harapan. Bicara. Lakukanlah sepanjang engkau ingin. Engkau mau. Engkau bisa. Selagi masih bisa bertahan dalam denyut yang masih belum menghilang. Selagi masih ada daya penghantar yang tidak terhambat. Selagi masi ada kesempatan untuk harapan. Selagi tidak terbunuh atau dibunuh. Bicara. Selagi Tuhan masih mendengar. Selagi manusia masih belajar. Selagi ada waktu. Lupakan soal ego.
Ia tidak mengenal siapa dulu dan siapa nanti. Tidak bicara gengsi. Ia egaliter. Seperti Tuhanmu yang bicara terlebih dahulu sebelum bayi-bayi terlahir pada bumi.
Satu huruf lebih baik. Padankan lalu utarakan. Sebelum Tuhan menguncinya. Lalu terisak. Dan titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s