SEGITIGA (TERINDAH) : AKU, DOA DAN DIA

BAB I

PERTEMUAN SEGITIGA

 

Setelah memperbincangkan eksistensi, ambisi dan aktualisasi yang lebih praktis, dan ditutup dengan perjumpaan kedua belah tangan kanan, deal, akhirnya perbincangan pun berlanjut pada perbincangan yang meremajakan otak dengan senyum dan gelak tawa yang meriah di lantai 2 rumah makan Wapo. Yap, di hari Senin, tanggal 3 Pebruari di tahun kuda, forum silahturahim terjadi antara aku dan senior era mahasiswa. Kali ini, perbincangan bisa dikatakan jauh lebih menarik dari sebelum-belumnya, karena perbincangan silaturahim membutuhkan sentuhan sentuhan khusus antara insting hukum dan intelektualitas didalamnya. Yaaapp, perbincangan soal kasus hukum. Hal yang sangat teramat jarang kita lakukan di era mahasiswa dulu. Bagaimana tidak, kami dahulu dibesarkan melalui rahim aktivisme. Sebut saja nama seniorku adalah Umar. Dia berhaluan dalam pemetaan khususnya advokasi kaum terpinggirkan secara hak, dan politik praktis. Sedangkan aku, hanya berkutat pada perpolitikan dunia kampus dan sekitarnya. Tak punya sedikitpun pengalaman dunia politik praktis, Ehehehe. Persamaan mendasar dari kami adalah sama-sama tersesat dijalan yang benar, Himpunan Mahasiswa Islam. Sekalipun senioritas antara aku dan dia cukup jauh, namun saat dalam adu argumentasi dalam forum-forum mahasiswa “yang mulia” sangat tidak tanggung untuk saling mendebat, saling tuding, saling menjatuhkan, yang pada pokoknya tema lumrah para politikus amatiran : aku dan diriku adalah kaum yang benar.

Dahulu, tidak tanggung memang bagiku, bagi siapapun dia, posisi apapun, ketika berseberangan dengan opini dan keputusan yang sudah aku buat bersama “loyalis” adalah wajib untuk ditundukkan. Persis sama bagaimana Jengis Khan hampir menaklukan daratan Asia-Eropa. Diaroma-diaroma itu kembali bangkit dalam perbicangan tadi sore. Kami saling tertawa, saling menyegarkan kembali bagaimana pernah dalam satu fase saling berkoalisi dan beroposisi dengan menghalalkan segala cara, apapun bentuknya (dan cerita penuh pesan dan kesan apa adanya mengalir ini menggunakan dialek campur campur, Indonesia-Suroboyoan, ahahah. Persis apa adanya seperti tadi Sore-Malam)

Dimulai dengan guyonan selorohannya “Koen biyen pancen Kabid paling gendeng, paling J****K, nggak onok sing kelakuane paling gendeng nak era mu, Cuma koen tok. Paling pragmatis, paling kontroversi, tapi iku koen. Aku posisi nak jobo peta mbek senior liyane sampe geleng-geleng nontok dulinanmu” (nggak ada translate Bahasa disini, ehehee) begitu ucapnya seraya nyeruput Es Lemon Tea. Aku pun tak tinggal diam, tanpa komando secara otodidak, mulut ini berbicara : “Halah, aku koyok ngunu iku sampeyan nggak eling, mari Pengkaderan nak Malang, aku lho mbok culik, mbok deleh nak kos-kos an gk oleh muleh karo konco-koncomu. Itungane aku iku bayi lahir mbok kek i saran, lek isok mlayu yo lapo mbrangkang ?!? Salah sopo sak iki ?? “ sahutku, lalu apa yang terjadi. Betul. Kita tertawa membahana sampai orang disamping kita ujungnya-ujungnya malah ikutan nguping. Ahahaha.

Kita, antara aku dan Mas Umar memang orang yang bisa dikatakan kontroversi di zamannya. Setidaknya hal ini lah yang mempersatukan kita dalam tema-tema Sospol. Perbincangan pun berlanjut, tentang kondisi stagnan Komisariat Hukum HMI yang dahulu membesarkan kita, bagaimana adek-adek kita tidak ada pionir untuk berani tampil gila, berani bermain resiko, berani nakal dalam permainan politik kampus. Hal yang sangat teramat kita sesalkan. Pengkaderan yang terputus, kegagapan mengambil posisi yang menentukan. Hingga, Mas Umar mengatakan “Cing, sing paling ngenes iku sak iki onok konco e awakdewe seniormu pisan, jek cawe-cawe ngurusi koyok ngenean. Padahal wis nggak jaman e maneh koyok ngene de’e. Aq ngesakno arek-arek, ngesakno de’e pisan. Bayangno, sampe senior nak Jakarta nggak sungkan-sungkan ngelingno, tapi yo pancet ae. Nak endi terus era belajar e adek-adek sing mandiri, independen ? “ keluhnya. Tanggapanku hanyalah seperti ini, “wah, power syndrome iku mas. Opo maneh fase awakdewe iku wis ngomong sego, tuku omah, noto rumah tangga kok malah jek ngomong ngene-ngene ae. Yo iku pilihan seh asline.“ dan aku pun mencuplik Pesan Mutlak Illahi dalam Surat Al Insyiqaq : 19, “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)” begitu Firman-Nya, aku berikan aplikasi android itu ke dia, dan tidak ada jalan selain baginya untuk tidak mengamini dan mengiyakan, tapi yang buat sedikit kaget adalah “Wah, koen kok berubah drastis ngene Cing ? ket awal mau aku ketemu ngobrol mbek koen, aku wis ngeroso koen perubahan drastis notok”. Kita pun tertawa lantang. Kemudian dia melanjutkan opininya “Nah, setidak e cing yo lek awakdewe ketemu maneh iku mbok yo ngomong sing fase ne luwih jelas, luwih konkrit, luwih teges, koyok awakdewe ngene iki, ngomongno dunia profesional”

Tema itu terus berlanjut, membahas tentang Eksistensi saat ini, planning-planning terdekat dan masa depan. Tak mengherankan, baru kita tutup silaturahim tadi sore sampe pukul 10.00 malam lebih. Terlebih saat dia tengah sibuk melakukan konsolidasi eksternal menyambut Gempita Pemilu 2014, aku hanya mendengarkan, dan mengimajinasikan stratakpol yang dia katakan. Bagiku itu indah. Hal yang telah cukup lama kurang lebih 5 tahun telah aku tinggalkan, atau aku lebih suka mengatakannya hanya mem-pending sementara waktu. Karena suatu saat aku ingin kembali pada jalan itu. Aku teringat kalimat dari sesepuh yang sangat menggembirakan : Carilah Jalanmu lalu matilah dijalanmu. Seorang guru menjadi guru karena panggilan jiwanya, bagaimana ia mengajar tanpa pamrih, Ketika ia mati sebagai guru, maka ia telah bahagia. Karena ia mati dijalannya sebagai guru. Terlepas tanpa iming-iming remunerasi dan tetek bengek lainnya, tulus. Setelah kiranya ia menyadari bahwa Tema politik praktis yang ia katakan harus disudahi, kini ia menanyakan mengenai bagaimana dan siapa Kucing (Nama universal yang melekat sebagai nama keduaku yang diberikan tanpa harus ada perubahan pada Akta Kelahiran atau Penetapan dari Pengadilan, ahaha), ketika aku menceritakan hal yang wajar yang memang aku alami sendiri, dia pun berseloroh : aku bangga nduwe adik koyok koen. Temen bangga. 

Jelas, statemennya ini kembali menghanyutkan kami dalam perbincangan yang lebih prinsipil. Apa itu ? Dunia Profesional dan Pendamping Hidup. Lho kok tiba-tiba ada tema Pendamping Hidup ? bukannya tadi hanya sekedar tukar pengalaman setelah sekian tahun tak bersua ? sebentar, ini terjadi karena ia melanjutkan komentarnya : “beruntung dan banyak bersyukur o koen, arek sak usiamu wis isok koyok ngunu, opo maneh koen ambek aku iki Lawpreneur, aku nggak membicarakan orang yang duduk diam tanpa gelisah didalam rumah. Trus rabimu dewe kapan ? sak umurmu koyok ngene iki wis wayahe opo maneh koen wis jauh melesat dibanding sak umurmu, aku nontok mulai teko immaterial mbek materialmu.” Jawabku hanya sederhana “Mas, awakdewe iki Cuma melakoni ae opo jare Juragan Langit, bersyukur iku pasti. Minta lebih iku keharusan. Lebih baik itu kewajiban. Soal rabi aku nyuwun dungane ae, lek apik dicepetno. Intine opo sing awakdewe lakoni kabeh iki Bismillah gawe Alhamdulillah” Begitu ujarku

“Lho cing sik yo, Bojo iku duduk soal asal ngapek, duduk soal Seks, duduk soal syahwat. Iku ngunu sing kudu Supporting System. Lek oleh pesen maneh, nontok mbek sinau o teko aku koen.” Ujarnya dengan mata yang menantang seakan mengajak terus berdiskusi panjang lebar. Jujur, aku sangat sangat sangat teramat tertarik. Mengapa ? kalau dipikir-pikir, dari dulu sampe saat ini aku selalu belajar dari diskusi dari sharing pengalaman dengan orang-orang sekitar, bagaimana aku belajar dari klien-klien, setelah mereka selesai konsultasi soal hukum, dengan tak sungkan aku memancingnya dengan halus, mengarahkan bagaimana dia meniti sebagai pengusaha, apa yang dibutuhkan pertama kali, manajemen permasalahan usaha, adaptatif system sampai pada persoalan prinsip dalam rumah tangga. Ya kalau katanya salah satu temen kecilku dulu sih, belajar langsung dari narasumber, bukan dari Narasi yang tak jelas sumber dan alam imajinatifnya. Belajar menanggapi dan berbuat sesuatu setelah penyesalan, bukan belajar tentang seandainya dan kawan-kawannya.

Lanjut lagi nih ya, dia melanjutkan omongannya, “ koen iku adikku, lek aku iki mas kandungmu, aku bangga mbek koen.” Subhanallah, terimakasih Allah atas segala bentuk keberuntungan yang Engkau khususkan buat diri pendosa ini, ujarku lirih dengan terus menyebut Asmaul husnanya Yaa Malik Yaa Latiif dalam hati. Aku semakin penasaran, sehingga aku beranikan diri tanpa tading aling-aling, tanpa jaim untuk “bertaruh secara fair dan jujur” dengan kata pembuka : opo sing isok tak sinaui teko kisah pengalaman e sampeyan mas ? begitu ucapku tanpa sungkan, tanpa merasa ada sekat umur yang jauh disana. Karena itulah aku, tipikal to the point, apa adanya, lugas dan blak-blak an (kayak berita, ahaha). Saat ia mulai bercerita, tepat pas ada lagu Kerispatih, Terindah Saat Aku Mencintaimu, yang semakin membuat suasana sedikit Cabe-Cabean kata anak muda zaman globalisasi sekarang (Halaaaaahh..). dan, cerita pun disensor di tulisan ini, bukan konsumsi publik pastinya, ahahah. Tapi, ada point umum yang publik harus tahu dan akan tertulis tegas di paragraf bawah ini

Dia mengemukakan bagaimana seorang lelaki harus berjuang dengan alasan yang indah : Anak dan Istri. Dengan serta merta (kayak petitum Gugatan, eheheh) aku pun berseloroh dalam alam harapanku, aku mengamini seluruhnya, tanpa syarat. “Nah itu dia mas, aku pengin aku ada alasan yang jelas saat aku rela hanya tidur 3-4 jam sehari atau bahkan 1-2 jam sehari, bangun, mandi, sikatan itu untuk suatu yang mengindahkan kita. “ dan dia pun menimpali dengan komentar yang menyentuh, yang selama ini menjadi pesan dari orang-orang yang tua kepadaku secara khusus, apa itu ? penentraman hati. Yaaapp. Itu. Penentraman hati. Yang aku ingat ada 6 orang mengatakan poin yang hampir sama persis berasal dari pengalaman hidup mereka bukan dari Talkshow atau saran yang berlevel pendapat atau pesan imajinatif.

“Cing, koyok koen ngene iki yo, bersyukur o koen karo aku wis dipilih karo Gusti Allah sebagai kaum yang terpilih untuk menyelesaikan permasalahan orang yang bersengketa, disana ada banyak permasalahan yang harus diuraikan satu demi satu, menguras waktu, tenaga, emosi dan pikiran kita, lek muleh-muleh nak omah nggak onok bojo sing nentremno ati, malah akeh syakwasangka, semau gue bojone awkdewe opo maneh lingkungan keluarga melu cawe-cawe, malah semburat urip e awakdewe. “ apa yang aku katakan secara otomatis ?? “Oh My godness, that’s the point..” jawabku sembari memberikan telunjuk jari kanan ke senior yang suroboyo banget ini.

“Mas, amit sak durunge iki luwih enak awakdewe diskusine atek dasar hukum yaopo ? ben isok jelas dan semakin yakin manteb ngelakoni sing jenenge Urip, piye ?? “ tantangku kepadanya. “Maksudmu dasar hukum opo ?? ” tanyanya kaget. “awakdewe iki kan wong hukum, opo maneh wong islam masio jek sinau akeh loro-lorone iku kabeh, yo nggawe Quran lah jek, yaopo ?? “ tantangku semakin berapi. Jawabnya tegas “Monggo Cing, aku seneng malahan”. Hal ini karena sudah beberapa bulan terakhir selalu capture dan tertarik pada bilangan dan firman Illahi, di aplikasi android BI Qur’an. Oleh karena itu, paska hilangnya Hape Samsung pertamaku yang paling aku sesalkan adalah disana ada banyak Captureanku baik dari BI Quran atau dari mesin browsing google tentang cahaya-cahaya-Nya. Boleh dikatakan ini adalah momentum kilas balik seorang pemilik nama kedua, Kucing dalam suatu proses. Demi Allah aku menghaturkan suatu panjat tiada tara atas fase ini. Teringat omongan malam dengan seorang teman sejak kecil yang sekarang telah berbini dua, ahahah, dia ngomong gini, menanggapi perubahan yang ada : Wis ta cong, umur sak koen iku wis tulisan e jaman, umur sak mene iku umur pencarian, umur gawe mlayu, lha wong mlayu lek nggak pengen kesandung iku butuh sepatu, butuh perlengkapan, butuh masukan, yo iki sak iki fasemu. Dan aku sudah dalam fase itu beberapa tahun yang lalu, dan sekarang berproseslah dengan cara-Nya yang unik dan baik. Salah satu Omongan yang kurang lebihnya pasti akan kutularkan pada anak cucu keturunanku kelak. Insyallah. Pasti.

Kemudian aku menanggapi ceritanya Mas Umar yang tadi, “Itu dia mas, Tuhan e awkdewe iku kan Serba Maha to, khususnya Maha Tahu dan Maha Pengasih, Dia lho ngomong nak Surat Al- Furqan : 74, Dungo nak AKU anugerahkanlah kami istri-istri dan keturunan sebagai penyenang hati, ditambah nak Surat Ar-Rum : 21, Menciptakan istri dari jenismu sendiri agar merasa tenteram dan saling kasih akung, soal e aku pribadi nggak gelem kenek firman Allah sing salah sijine nak Surat At- Tagabun : 14, Istri mbek anak iku isok dadi musuh gawe awakdewe, lho lek koyok ngunu, amit ae mas yo, nggak bahagia lak’an awkdewe ? mosok ngenteni nak Surgo isok entuk Bahagia ?? yo males lek aku. Aku nggak pengin mas bahagia nikmat penuh rahmat nak Akhirat tok, Lha kan Gusti Allah Tuhan Bumi Langit Dunia Akhirat, aku pasti njaok Duniaku pisan gawe Akhiratku. “ selorohku khas persis anak kecil yang merengek ke orang tuanya.

“Cing, urip iku wis abot lha kok sing sak jane dadi pelengkap, penentram, penyempurna iki  nambah abot pisan, yo awak ndaaaa.. ojok sampe. Iki soal start. Lek startmu elek, ending e pasti elek. Percoyo karo aku koen.” ujarnya spontan. “Wah, males mas lek percoyo sampeyan, Kafir lak’an aku percoyo selain Gusti Yaa Rahim, ahahah” sahutku untuk bercanda. Dan bisa dibayangkan bagaimana reaksinya, kata-kata khas ala suroboyoan lah yang keluar. Ahahaha. Surabaya. Beginilah kota-kota besar punya peradaban. Ahahaha.

Kemudian aku menambahkan statement lagi “Mas, sak jane aku iku rindu dadi arek cilik, jaman TK, SD, SMP, SMA dalam proses fase iku awakdewe nggak terlalu gamang nimang-nimang keputusan, nggak terlalu suwi mikir, asal mlaku, klarifikasi mburi mboh salah mboh bener, ahahaha” candaku untuk mencairkan suasana yang sudah sangat lebih serius dibanding alasan pertama kali mengapa kita bertemu, Kasus Hukum. Ahahaha. Unik. Allah selalu menepati Janji-Nya, dibalik silaturahim yang niat itu tulus dan benar disana ada Rezeki dan Umur yang panjang. So, forum itu kita mengiyakan mendapatkan Rezeki, baik yang berupa atau yang berasa. Allah. Maha Hebat deh Engkau. Ampun dah.

“Ahahaha, koen iku pancet ae, Ego get, Penuntut, selalu resah dengan segala keadaan.” Ujarnya sambil senyum dan geleng-geleng kepalanya kanan kiri riuh rendah, tak lupa dengan kepulan asap rokok cengkeh ternama, dan ia pun melanjutkan “Tapi, yo ngene iki wong urip, keresahan sing muncul nak koen iku wis wayah e, wong lek selalu Resah berarti orang itu selalu mencari alam kebaikan, alam kebenaran. beruntung koen cing, koen resah saat kamu akan berproses. Elingo yo, pertemuan sekarang itu bukan soal kebetulan, tapi soal investasi yang sudah kita lakukan sebelum hari ini, dadi anggep ae iki pertemuan iki iku pertemuan Petunjuk gawe aku, Petunjuk gawe koen. Iki ngunu Pertemuan Investasi yo judul e” selorohnya, mengajak bercanda. Aku hanya tersenyum kecil sambil memanggil pelayan Wapo itu untuk pesen lagi menu tambahan.

“Betul mas, koyok kisah e Ibrahim, sing resah kenopo nggak gelem nyembah berhala, koyok Musa sing Resah sopo asline Tuhan kuwi, koyok Nuh sing resah umat e kape diazab banjir to, betul sing sampeyan omongno, wong resah iku isok dikatakan selalu mencari alam kebaikan alam hakiki, lek awakdewe nggak usah gawe bosone Nabi, nggawe bosone menungso ae, resah nggolek alam kepantasan ae mas, ahahah. Terlebih iki mas yo, Allah nak Lauh Mahfudz e wis nulis Surat Al Ma’Arij : 19-20, Sesungguhnya Manusia diciptakan berkeluh kesah lagi bersifat kikir” tanggapku untuk menguatkan opini setelah pelayan itu pergi membawa catatan kecil dari menu tambahan kita. Baru kali ini aku berdiskusi tanpa melihat jam tangan, karena biasanya dengan jam tangan dilihat terus disana ada buah manis dari konsultasi, ahahaha. Atau setidaknya kawatir malam sudah sangat larut, namun ini sangat mengasyikkan. Melebihi membuat Memori atau Kontra Memori Peninjauan Kembali. Sangat.

“Cing, sak iki koen kudu eroh yaopo iku Bojo/Istri, yaopo iku Ibu, yaopo iku Morotuo, yaopo iku Keluarga Istri, Keluarga Kita dan Keluarga Kecil Kita, aku ngomong sesuai kapasitas pengalaman sing nak aku dewe yo, iku ngunu kabeh secara umum e duduk koyok analogi awakdewe kontrak omah, sing onok jatuh tempo, iki ngunu dienggo sak suwi-suwine, elingo sak suwi-suwine, opo maneh onok dalan dunia akhirat nak kono boi.” Ujarnya menyakinkanku. Allah. Kalimat terakhirnya sama persis dengan yang dalam pola pikirku. Sama. Baik pada pokoknya atau pada khususnya (ahahaha, kayak definisi HaKI). Kemudian  kembali dia bercerita panjang lebar yang sangat rahasia antara kami, yang tidak akan tertuang dalam tulisan ini.

“Cing, dungo sing mustajabah iku akeh banget, tapi salah sijini nak tema omongan awakdewe iki dungo teko wong tuwo, khusus e Ibu, karo dungo teko Bojo sing tulus ikhlas sampe dibelani tirakatan opo maneh sampek mbrebes mili. Lek iki dadi siji kabeh, Embooookkk.. sopo sing isok bendung ?? bukan e Gusti Allah iku ngomong nak Al Baqoroh : 186, AKU adalah Dekat, AKU mengabulkan permohonan orang yang memohon kepada-Ku.“ ujarnya dengan mengetuk meja dengan 2 jarinya, jari telunjuk dan jari tengah berulang kali. “koen wis nduwe wong tuwo koyok ngunu bersyukuro cing sing akeh. Opo maneh wong tuwomu lengkap, lha aku ? aku ben dino direstui mbek Ibuku dungo iku jarene, Ibu bangga karo koen nak, restu ibu bumi akhirat gawe koen. ” Sambungnya. Subhanallah. Maha Besar Engkau. “Dan begini cing, nontok koen iki teko njobo karo rungokno langsung teko koen critamu, soal dungo wong tuwamu wis sempurna jaminan e, sak iki kari koen kari pelengkap sempurna e iku, lek iku pas, aku iri karo koen. Pesenku siji nak koen, koen wis adikku, sinau o teko Aku ojok sampe. Aku ngeman koen. Temenan. Sinau o cing teko aku” ujarnya, yang membuat merinding. Dan ini adalah bentuk pesan dari 7 orang yang aku kenal, disekitarku. Menyampaikan secara khusus.

“Makane kuwi mas, aku bersyukur sangat sangat bersyukur nduwe bapak Ibu koyok wong tuwoku. Sangat bersyukur Dunia Akhirat. Soal Dungo, Allah wis ngomong to, teges maneh, sing sampeyan sampekno mau, AKU mengabulkan permohonan orang yang memohon kepada-Ku, lho iki ngunu kekuatan e jaaaannnnnn nggak ketulungan. Lek jare Mario Teguh kan, jangan sekali-kali meremehkan kekuatan Doa, lha piye nggak oleh remehno, Maha Kuat wis wilayah e, iyo to ? nah nak Surat Al Jumu’ah : 10 Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung, ditambah Asmaul Husna’an nak Surat Al Ara’af : 180 iku. Yakin ae wis kuncine. ” tanggapku menyakinkan. Kemudian, karena dasarnya aku ketika sudah tertarik dan terhegemoni dengan suatu diskusi, maka selalu banyak tanya, kemudian kembali melanjutkan pertanyaan mendasar, “sedikit ceritone sampeyan mau aku wis nangkep, sak iki aku butuh gentle teko penegasan point e sampeyan, soal kolaborasi Bojo, Eksistensi Diri karo Jaminan..”

“ Jaminan njalukmu ??” tanyanya kaget. “Iyo mas, jaminan. Lha wong aku iki tipikal koyok Moses (Musa) kok lek soal koyok ngene iki, ahaha” jawabku bercanda tapi serius. Tanpa komando seru, dia langsung menjawab seperti ini ……

(Bersambung dulu, sudah jam setengah 5 pagi, besok ada sidang jam 11, ehehehe. dilanjut cerita ini, Insyallah besok malam, Bab 2, PEMAHAMAN SEGITIGA.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s