Neo-Developmentalis HMI

Romantisme HMI dengan kultur-kultur diskusi atau pengkajian baik dalam isu hukum, politik, kebangsaan, dan keislaman menjadikan sebuah bukti bahwa organisasi mempunyai cita-cita dalam mencetak kadernya, yang mampu menjawab tuntutan zaman, atau Man of future. Lalu, muncul sebuah pertanyaan mendasar, Man of Future untuk siapa ? untuk HMI kah ? lantas bentuknya seperti apa ?
HMI  mencetak kadernya, menggunakan pola keseimbangan. Antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan kebutuhan spiritual. Pola keseimbangan ini sangat perlu tatkala zaman selalu dipengaruhi oleh realitas yang ada, maka zaman akan elastic, permasalahan yang timbul akan multi dimensi. Karena multi dimensi inilah, zaman membutuhkan manusia-manusia yang berkualitas-integritas dengan pondasi radiks yang kuat, antara ilmu dan amal.
Terutama ketika mahasiswa sebagai pemegang control social dan moral suatu bangsa, sangat dibutuhkan keteguhan idealisme, kecerdasan berfikir dan kemuliaan tingkah laku dalam menunaikan tanggung jawabnya tersebut. Awal berdirinya HMI didorong oleh adanya kondisi carut marut bangsa Indonesia, karena hal tersebut lah yang kemudian memunculkan komitmen kebangsaan HMI bahwasanya HMI merupakan bagian dari Indonesia sebagai negeri, Indonesia sebagai nasion, dan Indonesia sebagai Negara. Komitmen ini dipertegas dalam misi HMI, sebagaimana tertuang dalam pasal 5 AD/ ART organisasi. Kelak komitmen inilah yang menempatkan kader-kader HMI sebagai penjawab kebutuhan bangsa akan zaman.
Dengan semangat developmentalisnya, HMI mampu menjadikan dirinya sebagai organisasi mahasiswa yang moderat, yang dapat mengambil peran dalam setiap permasalahan bangsa dengan menjunjung tinggi semangat nasionalisme, pluralism dan mengedepankan kualitas insan cita. Hal tersebut telah dibuktikan oleh HMI selama 64 tahun berdiri. Komitmen kebangsaan kemudian dipertegas kembali oleh HMI dengan selalu bersikap kritis obyektif terhadap policy yang diambil oleh pemerintah, tanpa berafiliasi atau berpihak golongan manapun, independent.
Pembinaan pada diri kader untuk menjadi insan yang berakhalkul karimah, dengan ditunjang oleh pengembangan potensi diri kader yang kreatif dan sesuai dengan latar belakang keilmuannya merupakan suatu kunci pada proses pengkaderan HMI untuk tampil sebagai organisasi mahasiswa yang berperan aktif dalam usaha mewujudkan kemadanian atau kemaslahatan umat.
Hal tersebut bertujuan akhir untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya, pembangunan yang bersegi multi dimensi, baik dari segi social-politik-pendidikan-hukum-budaya- dan ekonomi. Termasuk pembangunan terhadap manusia Indonesia itu sendiri. Mengapa ? karena pembangunan nasional sendiri harus dilakukan secara kumulatif dan komprehensif demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, sehingga dibutuhkan manusia-manusia yang cerdas, berkualitas dan bermoral.
Terlepas dari tujuan pembangunan nasional, peran sentral yang diemban oleh HMI harus dilaksanakan penuh dengan tanggung jawab dan kesadaran akan berbangsa dan bertanah air. Komitmen kebangsaan tidak akan tercapai penjiwaannya apabila tidak didukung adanya sense of belong yang mendalam terhada permasalahan yang timbul. Maka sudah saatnya bagi HMI untuk kembali merekonstruksi cara pandangnya, mengingat tanggung jawab yang sedemikian besar, untuk kembali berperan totalitas dalam menjawab tuntutan kebangsaan yang multidimensi. Pengkajian-pengkajian dan diskusi merupakan sebuah kultur yang tetap harus digarap sebagai pondasi kuat untuk “ modal “ knowledge kader. Yang pada akhirnya hal tersebut diabdikan kader kepada bangsa dan Negara Indonesia.
Organisasi dan bangsa ini sama-sama besarnya, kompleksitas dinamika dan konflik sama-sama hebatnya dan pluralism atas gagasan, cara pandang, pola pikir dan potensi diri kader sama-sama mengagumkannya. Namun organisasi dan bangsa ini sama-sama masih membutuhkan suatu konsep yang mampu menjawab setiap kebutuhan internal-eksternalnya jauh kedepan, yaitu neo-developmentalis.Arah dan tindakan yang terukur kita identikkan dengan ke-efektifan suatu program atas pembangunan. Sedangkan HMI dan bangsa ini telah kehilangan konsep barunya. Cenderung mengarah pada program yang bersifat massif. Kita masih saja terhegemoni pada nostalgia sejarah yang terjarah, dimana kejayaan bangsa ini pra-kolonial, dan dimana kejayaan HMI dulu ( taun ’60an –‘70an ) mampu melahirkan intelektual muslim mudanya. Namun memasuki zaman globalisasi sekarang, 2 subyek ini masih timbul sebuah kelatahan dalam melakukan suatu pembaharuan. Tidak ada yang salah dengan NDP HMI dan tidak ada yang salah dengan Pancasila Indonesia. Tapi, penjiwaan dalam tindakan suatu pembangunan lah yang menjadi kunci dari kelatahan ini. Kader-kader HMI tengah menikmati suatu poros kekuasaan yang cenderung pragmatis, dengan mendompleng nama besar organisasinya. Sedangkan Negara ini tengah menikmati suatu proses demokrasi yang identik dengan pembangunan politiknya yang cenderung liberal.
Akhir kata neo-developmentalis yang dimaksud ialah adanya reformasi total dari penjiwaan akan esensi suatu cita-cita yang luhur dan mulia, yang dilakukan mana kala kita mengkonsep dan menjalankan suatu program atau pembangunan. Perumusan suatu program haruslah mengimplementasikan dan memunculkan penjiwaan atas NDP HMI dan Pancasila. 2 komponen ini harus diakomodatifkan menjadi satu agar tujuan sebagaimana insan pencipta dan pengabdi dapat terlahir kembali untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang madani. Sehingga kader saat ini dan kader yang akan lahir, kelak mampu tampil kembali sebagai Man of future menggantikan Cak Nurcholis Majid atau cendikiawan dan negarawan bangsa ini yang telah ada.Bahagia HMI…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s